Aku jatuh hati ke seseorang yang hampir mendekati kata sempurna, aku udah kenal dia dari lama tapi aku slalu gak mau melihat dia karena menurutku dia seperti cowo yang so ganteng , dia sangat dingin dan ga banyak bicara.
Tahun 2022 sebelum kami dekat , aku udah sedikit banyak tau tentang dia.
Tapi waktu itu yang ada dipikiran ku cuma satu hal, aku ga memikirkan perasaanku tapi aku pikir bahwa aku cuma ingin membantu dia menjadi pribadi yang lebih baik, semua berjalan lancar dari bulan apa yaa antara mei/Juni kalo ga salah aku lupa hehe.
Semua berjalan lancar , dia laki laki yang baik dan saking baiknya, walaupun ada badai malem malempun kalo aku sedih dia bakalan datang ke rumahku beneran, kayak cowok fiksi kan?hehe..
Tapi ternyata semuanya terbalik waktu itu aku ngerasa aku yang kurang bisa menghargai dia , masalah berdatangan kami ga pernah berantem tapi kami slalu berargumentasi dengan nada datar yang aku rasa itu bukan berantem.
Saat itu aku sering banget nyalahin diri aku sendiri dan minta maaf terus dan aku jadi gampang minta maaf ke hal hal yang kecil, tapi mau gimana lagi, aku sayang banget sama dia. Dan begitu juga dengan dirinya (mungkin) .
Dia benar benar menyayangiku dengan tulus dia ga pernah nyerah dengan kita. Padahal, sering kali aku ingin nyerah tapi dia ga pernah membiarkan aku nangis sendirian, dia slalu ada sama aku.
Sampai suatu waktu ada kata kata dari dia yang bikin aku sadar kalo selama ini dengan nyalahin diri aku sendiri tuh sebenernya karena kata kata yang dia kasih ke aku, yang membuat aku akhirnya nyalahin diri aku sendiri.
Disitu aku sadar bahwa cinta tu ga kayak gini, harusnya suatu hubungan bukan menjadi beban dihidupku ternyata situasi ini membuat hubungan ini menjadi toxic , aku takut kalo aku bahagia. karena setiap aku keluar sama temenku, terus pulang. Pasti aku tau ada hal yang harus aku debatkan sama dia.
Rasa takut itu membuat semuanya berantakan aku ga ngenal diriku dan hubungan ini membuatku makin bingung dengan diriku sendiri, tapi aku ga mau egois buat ngelepasnya ..
Tapi, malam itu aku mengakhiri semuanya. Malam itu aku bilang sama dia kalo aku pengen kita hidup dengan jalannya masing masing, dia meng " iyakan " dan bilang " ga ada kata balik ya ", dan akupun " iya " kan.
Kitapun saling mengucapkan kata perpisahan..
Waktu itu aku pikir kita akan kembali dengan versi terbaik masing masing. Stelah berpisah kami ga kontekan dan juga berteman, karna kalo di bilang temen , temen ga memiliki perasaan ingin memiliki kan? .
Aku ingin nangis dan nyerah, yang ada dipikiran ku cuma. Aku ga bakal ketemu dia lagi untuk selamanya , apa dia udah ga sayang aku?, Apa secepat itu dia dapet pengganti aku?.
Aku pikir aku ga akan sakit / kecewa karna aku menganggap aku udah move on tapi aku nangis.
Aku masih mengingat perkataan dia yang bilang bahwa dia ga akan mencari siapa siapa dulu dan ingin fokus sama diri sendiri.
Bagi aku he's my first banyak hal pertama yang aku lakukan dengannya, seperti apa rasanya jatuh cinta, apa rasanya dipeluk seseorang, apa rasanya ada seseorang yang setiap saat bilang i love u, tapi buat dia ..
Bukankah aku cuma salah satu mantannya? Dia segampang itu mencari pengganti, dan aku disini tanpa pengganti.
Kalo emang kita ga dapat dipersatukan lagi aku berharap aku bisa siap jatuh cinta lagi tanpa ada ketakutan dari diriku.
Mungkin merelakan orang pertama yang kita cintai dihidup ini bukan hal yang mudah, apalagi kita berpisah dalam keadaan kurang baik baik.
Kira kira kenapa ya? Padahal dia baru sebentar berada disisi aku, tapi semua terasa aga susah untuk lupa.
" Aku kira kita lagi sama sama sendiri, aku ga punya rencana lain selain memperbaiki diri aku , tapi ternyata kamu punya rencana dengan tokoh lain " .
( Finally!! aku udah dapet tempat kerja yang baru ^_~ ! )